Cingkeh sebagai komoditi asli Maluku sebenarnya telah memiliki nilai jual yang cukup tinggi sejak dahulu kala. sejarah mencatat bangsa Portugis telah berhasil mendarat di kawasan Indonesia timur hanya untuk melakukan transaksi jual beli untuk mendapatkan Cingkeh hingga akhirnya menjadi ihwal terjadinya kolonialisme di bumi Nusantara. bahkan, dalam beberapa tulisan studi sejarah mencatat harga Cingkeh dipasaran saat itu bisa menyamai dengan harga emas. begitupun untuk beberapa komoditas tanaman Pala yang diburu oleh bangsa portugis untuk dijual ke Eropa.
***
saat ini, komoditas Cingkeh telah berhasil dibudidayakan tidak hanya di Maluku dan Tarnate saja. melainkan telah meluas hingga ke luar Pulau seperti Sulawesi. untuk wilayah sulawesi sendiri, beberapa daerah yang cukup Produktif yakni Manado, Gorontalo dan beberapa kawasan di Sulawesi Tengah hingga Makasar. hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kontur wilayah Geografis pesisir yang menjadi tempat ideal untuk bercocok tanam cingkeh. sebab, tanaman cingkeh hanya akan tumbuh apabila ia memang langsung berhadapan dengan lautan.
Cingkeh vs Jagung
di Gorontalo sendiri. terdapat beberapa wilayah yang cukup potensial dijadikan lahan untuk menanam cingkeh. yakni daerah Bone pesisir, Batuda’a Pantai dan beberapa kawasan pesisir lainnya. sayangnya, potensi ini belum dilirik oleh pihak terkait untuk dijadikan objek potensial dalam menyejahterakan masyarakat pesisir.
hal ini dikarenakan masih terfokusnya Pemerintah dalam menggenjot komoditi utama yakni Jagung sebagai aset pemasukan bagi masyarakat Petani. padahal, bila dibandingkan dengan harga jual antara ke dua komoditi tersebut, harga cingkeh jauh lebih mahal ketimbang jagung. di pasaran Gorontalo saja harga Cingkeh kering berkisar 100 hingga 150 ribu per kilogram. 100 kali lebih mahal ketimbang harga Jagung yang biasanya dihargai 10 ribu rupiah per kilogramnya.
itupun, tatkala masa panen, harga jagung kadangkala bisa turun hingga 8 ribu dipasaran dikarenakan banyaknya barang yang tersedia dan minimnya daya beli (deflasi). lain halnya dengan cingkeh yang justru cukup stabil meskipun sedang memasuki masa panen.
ada beberapa faktor yang turut memengaruhi kurang diliriknya potensi cingkeh di Gorontalo. pertama, kondisi geografis yang terbatas terutama wilayah pesisir yang potensial untuk dibudidayakan tanaman cingkeh ketimbang komoditi tanaman lainnya seperti tebuh dan jagung. wilayah Gorontalo secara geografis hanya memiliki 2 kawasan pesisir yakni bagian utara (kab. Gorontalo utara) dan bagian selatan (sebagian kab. Bone bolango dan Gorontalo) sedangkan diluar kawasan pesisir masih terdapat lahan yang cukup luas untuk ditanami jagung ataupun komoditi lainnya.
kedua, keuntungan untuk pemerintah. sudah menjadi rahasia umum jikalau dalam mengembangkan salah satu sektor disebuah pemerintahan baik itu dalam sektor pertambangan, agraris, kelautan dll haruslah memiliki keuntungan finansial untuk pemerintah semisal pemasukan untuk daerah baik dari segi pajak maupun investor.
Di Gorontalo sendiri, Jagung dan tebuh merupakan aset penting bagi pemerintah dikarenakan jagung menjadi andalan komoditas ekspor Gorontalo dan adanya beberapa pabrik pengelolaan jagung yang beroperasi di Gorontalo seperti PT. Harim. sedangkan tebu untuk kawasan paguyaman diolah menjadi gula pasir oleh perusahaan PT. Naga Manis sehingga secara tidak langsung turut memberikan masukan dana bagi pemerintah daerah. ketiga, masa panen cingkeh yang cukup lama biasanya sekali dua kali dalam setahun. dan, ke empat cingkeh hanya sebatas produksi sekunder masyarakat pesisir. dalam artian hanya dijadikan penghasilan sampingan untuk masyarakat pesisir dikarenakan rata-rata masyarakat pesisir justru mayoritas berprofesi sebagai nelayan . ditambah lagi perawatan pohon cingkeh yang tidak terlalu rumit sehingga bisa memberikan mereka waktu yang banyak untuk melaut.
elegi ekonomi kaum pesisir
meskipun secara geografis kaum pesisir di Gorontalo sangat diuntungkan oleh komoditas cingkeh, nyatanya hal tersebut tidak turut serta menyejahterakan kehidupan ekonomi mereka. fakta dilapangan menunjukan angka kemiskinan masih sangat tinggi bagi kaum pesisir meskipun beberapa di antara mereka memiliki tanaman cingkeh. bila kita menkaji lebih mendalam maka terdapat siklus simbiosis yang secara tidak langsung telah menjerat masyarakat pesisir dalam cengkraman kaum kapitalis baik dari kalangan feodal maupun Borjuis.
cingkeh menjadi pasokan terbesar untuk perusahaan-perusahaan rokok di negeri ini selain tembakau. sebab, dalam setiap racikan rokok yang dijual dipasaran terdapat campuran cingkeh didalamnya. bila demikian, maka perusahaan-perusahaan ini secara tidak langsung telah mengendalikan ekonomi masyarakat pesisir sebagai kaum poletar bagi mereka. harga cingkeh yang 100 ribu merupakan harga untuk cingkeh yang meiliki tingkat kekeringan sesuai standar kelayakan harga. apabila tidak memenuhi standar tersebut maka value cingkeh akan langsung jatuh dibawah harga pasaran. dan inilah yang menjadi peluang bagi kaum kapital borjuis untuk mendapatlkan harga seminim mungkin. wajar, karena mereka memang memiliki alat produksi untuk meningkatkan kualitas cingkeh dibawah standar saat mereka bertransaksi didaerah penghasil cingkeh.
lantas, bagaimana keterkaitan kaum feodal pesisir dalam mata rantai ini? kaum pesisir justru menjadi kaki tangan pertama (pembeli pertama) sebelum memasok bahan baku ke pabrik untuk di produksi. maka secara langsung mereka merupakan kaki tangan para kapital untuk mengendalikan harga di pasaran. hal ini didukung oleh sikap pemerintah yang acuh tak acuh turut andil terhadap komoditas cingkeh dimulai dengan penyediaan bibit unggul hingga pelatihan bagi para petani cingkeh. palagi dalam hal mengatur kebijakan harga agar sesuai dengan nilai kelayakan bagi petani cingkeh.
kaum pesisir sebagai kaum proletarpun semakin terpuruk tatkala banyak diantara mereka yang terlibat hutang piutang. alhasil, keuntungan dari panen cingkeh secara otomatis tidak bisa mereka rasakan lantaran langsung habis untuk melunasi hutang mereka. ditambah lagi wilayah pesisir di Gorontalo rata-rata tidak bisa ditanami padi sebagai bahan baku konsumsi pangan masyarakat pesisir yang secara langsung berimbas pada ketidak ketersiadanya beras bagi mereka untuk dikonsumsi tanpa mesti membeli. bila hal ini semakin dibiarkan saja, maka lambat laun jeratan kemiskinan di negeri pesisir kian menggurita sedangkan cingkeh sebagai komoditi”mahal” hanya menjadi ilusi bagi kaum pesisir Gorontalo.
***
tulisan ini sebagai selingan penulis saat penulis mengunjungi beberapa desa di pesisir Gorontalo 2014 silam tatkala panen cingkeh berhasil meningkatkan daya beli masyarakat pesisir.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar