Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]

politik

MOMEN DEKLARASI (SMPIG)



Yogyakarta , Asrama Wonocatur 23 JANUARI 2016

Perayaan Hari Patriotik 23 Januari di sambut oleh beberapa mahasiswa pascasarjana asal Gorontalo yang ada di Yogyakarta sebagai momen mendeklarasikan sebuah organisasi atau perkumpulan baru dengan tujuan menampilkan buah-buah pemikiran il
miah terkait dengan proses kebijakan pemerintah daerah dan Indonesia pada umumnya.

Organisasi yang diberi nama Serikat Mahasiswa Pascasarjana Indonesia Gorontalo (SMPIG) Ini menjadikan momen 23 januari sebagai hari deklarasinya , tentunya dengan mengacu pada spirit-spirit perjuangan pahlawan gorontalo pada tahun 1942 dalam mengusir penjajah, menurut salah satu Pelopor SMPIG

Supandi Rahman mengatakan “ Serikat ini akan menambah ramainya organisasi-organisasi mahasiswa asal Gorontalo yang mempunyai niat membangun daerah, yang berbeda adalah organisasi ini focus pada para mahasiswa Pascasarjana yang sementara studi sebagai anggota aktif.

SMPIG Dalam agenda utamanya melaksanakan Diskusi pada tanggal 23 Januari dengan mengangkat tema “Merdeka dari Korupsi dan Kemiskinan” berbekal sebuah ikhtiar keilmuan SMPIG mengangkat tema tersebut karena Korupsi dianggap telah meruntuhkan dan melumpuhkan sendi-sendi perjuangan bangsa , apalagi kini korupsi mewabah pada Proses-proses Demokrasi yang membuat demoralisasi di kalangan masyarakat , sebagai contoh dekat budaya money politik yang terendus tapi pembuktiannya seakan-akan sangat sulit disajikan.

Di Gorontalo sendiri yang memasuki usia ke 74 setelah lepas dari penjajahan mengalami fase-fase perjuangan yang cukup menegangkan, terutama pada tahun 2000 ketika melepaskan diri dari Provinsi Sulawesi Utara , pada saat itu Gorontalo menghirup udara otonom dan menjadi sebuah Provinsi yang siap mengurus daerahnya sendiri dengan program-program kebijakan untuk kesejahtraan masyarakat tetapi sungguh disayangkan beberapa kasus korupsi menghantui Provinsi yang tergolong muda ini, salah satu contoh kasus kerugian Negara pada tahun 2001 yang merugikan Negara senilai 5,4 Miliar rupiah, dan beberapa kasus lain yang cukup menghebohkan dan melibatkan beberapa pejabat yang ada di daerah.

Selain itu juga akhir-akhir ini beberapa kebijakan daerah terkait pembangunan sepertinya tidak menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat , pembangunan Gorontalo Outer Ring Road yang menelan biaya cukup fantastis terjawab dengan hasil riset Pusat studi Kebijakan dan Kependudukan UGM yang menempatkan Gorontalo pada posisi terbuncit terhadap penyaluran persentase APBD Pendidikan, Kemudian angka pengangguran yang terus bertambah dalam jangka waktu 6 bulan menabah rentetan pekerjaan pemerintah untuk bisa menjawab secara lugas problematika yang kini menghantui Gorontalo.

belum lagi Awal tahun 2016, Badan Pusat Statistik RI kembali merilis Laporan Sosial Ekonomi – Januari 2016, diantaranya menyajikan data tentang angka kemiskinan di 33 Provinsi seluruh Indonesia. Hasil kajian IDeAS dari Data Sosial Ekonomi BPS menunjukkan tingkat kemiskinan di Gorontalo periode januari 2016 berada pada posisi ke 5 daerah yang terkategori paling miskin dengan persentase 18,16%. data ini sinkron dengan data BPS Provinsi yang menunjukkan tingkat pengangguran Agustus 2015 mengalami kenaikan sebesar 7.776 orang dari keadaan Februari 2015 sebesar 16.325 orang, atau bertambah 3.182 orang dari keadaan Agustus 2014 sebesar 20.919 orang.

Dalam melihat fenomena-fenomena tersebut secara eksplisit beberap kesimpulan yang di hasilkan oleh SMPIG dalam diskusinya pada malam patriotic meyerukan beberapa hal yang sangat kursial, diantaranya mengembalikan marwah perguruan tinggi sebagai lembaga yang diharapkan mampu ikut serta dalam penyusunan RAPBD, agar kemudian kebijakan-kebijakan yang dilahirkan akan secara langsung di sinkronkan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat, dan tidak hanya berafiliasi pada kepentingan-kepentingan politik sekelompok orang.

Hari ini secara tegas potensi universitas-universitas di Gorontalo telah banyak berkembang dari segi keilmuan, olehnya keterlibatannya perlu lebih optimal untuk mengontrol pemerintahan, karena lembaga Kampus adalah satu-satunya lembaga yang bebas dari tendensi politik apapun, tentu kita tidak bisa pungkiri walaupun secara marwah itu harus di wujudkan, masih ada juga beberapa oknum ilmuwan dan akademisi yang masih saja membebek pada pemerintah tanpa memperlihatkan sebuah pemikiran rasional terkait dengan kebijakan-keijakan yang akan di ambil.

Kemudian yang berikutnya adalah Gorontalo yang terkenal dengan daerah adat yang cukup besar diperlukan langkah-langkah sosiologis dalam kebijakan pembangunan agar konflik gugat-menggugat antara masyarakat dan pemerintah bisa diminimalisir, ini penting karena pemerintah tidak bisa secara arogansi menempatkan sebuah pembangunan pada skala-skala yang tidak melihat potensi musyawarah yang dilakukan secara pendekatan-pendekatan adat yang cukup kental di Gorontalo.
Kedua hal tersebut menjadi sebuah rekomendasi dari SMPIG sebagai acuan untuk memberikan warning terhadap pemerintah terkait dengan hal-hal kursial di atas,

kedepan Gorontalo harus bebas dari praktek-praktek korupsi yang melibatkan oknum-oknum pejabat daerah serta penentuan kebijakan yang akan di ambil haruslah sesuai dengan kebutuhan masyarakat Gorontalo, kesenjangan yang ditampilkan dengan data-data statistic di atas bukan sekedar data yang dilihat dengan menggunakan kacamata kuda dengan berpatokan pada aturan-aturan di atas kertas yang terindikasi bisa di manipulasi, tetapi harus di control dengan peran-peran institusi universitas secara komperhensif agar kemudian pemerintahan yang pro rakyat yang banyak digembar gemborkan para politisi mampu di jalankan dan diciptakan dalam sebuah karya yang benar-benar nayata bukan simbolis.

Olehnya SMPIG kedepan akan terus melaksanakan diskusi-diskusi secara komperhensif dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran pada pemerintahan demi kemajuan daerah Gorontalo.
Dalam sebuah uraian kata salah satu tokoh Intelektual Indonesia yang terkenal dengan sebutan Gie mengatakan “ mahasiswa adalah kaum Intelegensia yang tidak bisa ikut kacau dalam arus masyarakat tetapi mahasiswa secara moral tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya” rangkaian kata-kata Gie tersebut menampilkan semangat kita sebagai mahasiswa yang harus aktif dalam setiap masalah-masalah sosial kemasyarakat khususnya di Gorontalo.
SALAM MERDEKA………………………………

4 komentar:

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib